Jan 10, 2009

Makanan Terapi Kanker

Jangan remehkan para petani. Karena dari merekalah kita mendapatkan obat murah. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di American Association for Cancer Research’s Sixth Annual International Conference on Frontiers di Cancer Prevention, Philadelphia Amerika Serikat menyebutkan, bahwa buah beri hitam dan brokoli serta beberapa sayuran segar dapat mengurangi risiko kanker esophagus dan saluran empedu.
Sayur dan buah telah lama diketahui mampu mengurangi risiko munculnya kanker tertentu. Berdasar riset sebelumnya, American Cancer Society merekomendasikan agar kita mengonsumsi lima jenis buah dan sayur setiap hari.
Dalam penelitian awal, para peneliti dari Ohio State University menemukan bahwa beri hitam melindungi kita dari kanker esophagus dengan cara mengurangi proses stress oksidatif yang dihasilkan oleh Barret esophagus, sebuah kondisi pra kanker yang biasa disebut penyakit gastroesopagus refluks. Esophagus merupakan terowongan panjang yang menghubungkan kerongkongan dengan perut. Penyakit refluks menyebabkan asam perut secara terus menerus melonjak ke atas ke arah kerongkongan.
“Khusus pada pasien penderita Barret, refluks pada perut dan asam empedu menyumbang terjadinya kerusakan oksidatif. Jadi, hipotesis kami adalah bahwa makanan yang mengandung bahan-bahan pelindung seperti antioksidan, vitamin, mineral dan fitokimia lain mungkin akan merestorasi keseimbangan oksidatif,” ungkap Laura Kresty, peneliti utama.
Orang dengan penyakit Esophagus Barret biasanya 30 sampai 40 kali biasanya bakal berisiko menderita kanker esophagus dengan angka harapan hidup sampai lima tahun hanya 15 persen.
Tim peneliti ini memberi 32 sampai 45 gram beri hitam setiap hari selama enam bulan kepada 20 pasien penderita esophagus Barret. Mereka menganalisa perubahan dalam darah, urin, dan jaringan sebelum, selama, dan setelah perawatan dan menemukan kadar kadar yang lebih rendah penanda kimiawi adanya stress oksidatif baik pada contoh urin maupun contoh jaringan.
Pada penelitian sebelumnya, beri hitam memang mampu menurunkan risiko munculnya kanker mulut, esophagus, dan kolon. Ahli diet, Wendy Demark-Wahnefried, professor ilmu perilaku pada M.D Anderson Cancer Center do Universitas Texas, Huoston, mengatakan bahwa dia merasa lebih cocok menasihati penderita Barret untuk mengonsumsi beri hitam. “Ini tidak akan menyakitkan,” ungkap Wendy.
Sementara itu, penelitian yang dilakukan di Roswell Park Cancer Institute di Buffalo, New York, Amerika Serikat menemukan bahwa brokoli dan beberapa sayuran segar dapat digunakan untuk melawan kanker kandung kemih.Dengan menggunakan tikus, tim yang diketuai Dr. Yuesheng Zhang, professor ahli kanker ini mendemonstrasikan bahwa ekstrak brokoli dapat mengngari munculnya kanker kandung kemih sampai 70 persen.
“Penelitian kami yang terkini menunjukkan bahwa ekstrak brokoli dapat menghambat berkembangnya kanker kandung kemih. Kami belum tahu, apakah ekstrak yang sama dapat menghambat kanker kandung kemih bila sudah tumbuh,” ujar Zhang yang juga mengungkapkan bahwa kandungan sulforaphane pada brokoli inilah yang mampu mencegah kanker. “Selanjutnya kami berencana meneliti ekstrak brokoli untuk melawan kanker pada manusia,” jelas Zhang.
Tim kedua pada institute yang sama menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi tiga porsi atau lebih sayuran mentah segar setiap bulan mengurangi risiko terkena kanker kandung kemih sebanyak 40 persen. Sayuran segar ini antara lain brokoli, kobis, dan bunga kol.
Tim ini menganalisa kebiasaan diet pada 275 orang yang menderita kanker kandung kemih tahap awal dan 825 orang yang sehat. Para peneliti ini secara khusus menanyai seberapa banyak orang-orang ini mengonsumsi sayuran matang dan mentah yang mereka konsumsi sebelum terdiagnosis penyakit dan apakah mereka merokok.
Analisa ini menunjukkan bahwa makin mentah dan segar sayuran yang dikonsumsi, makin rendah risiko orang-orang ini menderita kanker kandung kemih. Sebagai perbandingan pada perokok dan mereka yang hanya mengonsumsi sayuran mentah kurang tiga porsi setiap hari, mereka yang bukan perokok dan mengonsumsi tiga porsi sayur mentah setiap hari, 73 persen lebih rendah risikonya menderita kanker kandung kemih.
“Dalam penelitian kami, ditemukan konsumsi sayuran segar dan mentah menurunkan risiko kanker kandung kemih pada perokok ringan dan berat,” ujar Li tang, ketua peneliti. Para peneliti ini menegaskan bahwa manfaat ini datang dari sayuran mentah dan segar.
“Ini juga menegaskan bahwa ada banyak ragam komponen dalam sayur dan buah yang bermanfaat menurunkan risiko kanker. Riset seperti ini membantu membantu kita memahami pengaruh nutrisi spesifik untuk tipe kanker tertentu,” jelas Colleen Doyle, Direktur Gisi dan Aktivitas Fisik pada American Cancer Society.
“Masaklah sayur secepat mungkin atau kalau mungkin konsumsilah sayuran segar setiap hari sekurangnya lima porsi, lima jenis warna. Makanan-makanan ini banyak mengandung antioksidan dan fitokimia. Kanker pasti enggan mampir di tubuh Anda,” jelas Doyle.
Source: AFP

Selalu konsumsi sayuran segar semasa terapi kanker ... baik kanker payudara, kanker leher rahim, kanker kista, kanker myoma, kanker kista, kanker pita suara, kanker usus dll...

dan visit this site: www.atmcellfood2u.com cellfood cairan berenergi tinggi untuk terapi kanker baik kanker payudara, kanker kista, kanker leher rahim, kanker myoma, kanker usus, kanker pita suara dll...

Dec 21, 2008

YOGA untuk Relaksasi Penderita Kanker Payudara

Dengan melakukan senam yoga, rasa lelah maupun pikiran penat dapat disingkirkan. Rasa relaks pun didapat. Karena itu, bagi orang yang memiliki mobilitas tinggi, yoga dapat menjadi alternatif untuk mendapatkan relaksasi.

Ternyata, senam yoga juga bisa dimanfaatkan sebagai terapi untuk meringankan penderita kanker payudara.Umumnya wanita yang mengidap kanker payudara harus berjuang melawan rasa takut, depresi, dan rasa sakit. Ternyata senam yoga dapat menjadi salah satu alternatif bagi para wanita pengidap kangker payudara untuk meringankan derita tersebut.

Baru-baru ini sebuah penelitian mengenai pengaruh senam yoga pada penderita kanker payudara dilakukan oleh Universitas Texas, Amerika Serikat. Mereka mencermati 61 pasien kanker payudara yang selama enam minggu harus menjalani radiasi. Ternyata 30 pasien di antara mereka, selain menjalani radiasi juga aktif mengikuti kelas yoga dua kali seminggu. Setelah enam minggu berlalu, pasien diberi pertanyaan-pertanyaan seputar kesehatan mereka yang menyangkut kegiatan fisik dan ketenangan jiwa. Hasilnya, penderita yang mengikuti kelas yoga jauh lebih sehat dan kuat. Selain untuk merelaksasikan pikiran ternyata senam yoga merupakan salah satu alternatif untuk meringankan penderitaan para wanita yang mengidap kanker payudara.

Bagaimana pendapat Anda ?


Kunjungi: www.atmcellfood2u.com
PASTI BERGUNA dan BERMAFAAT!!
Banyak Testimoni Video manca negara!

Dec 16, 2008

Breast Cancer Penyakit Mematikan Pada Wanita

Di Indonesia kanker payudara menduduki peringkat kedua setelah kanker leher rahim yang paling banyak menyerang wanita Indonesia. Insiden kanker payudara pada dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan meningkat. Data terakhir menunjukkan bahwa kematian akibat kanker pada wanita tetap menunjukkan titik tertinggi. ”Khusus kanker payudara menduduki peringkat kedua penyebab kematian pada wanita, setelah kanker leher rahim, “ucap DR. Sonar Soni Panigoro, SP.B-Onk, M.Epid saat ditemui Kabari di RSCM Jakarta. Akan tetapi menurutnya, kanker payudara ternyata bukan hanya monopoli kaum wanita.

Kaum pria pun bisa mengalaminya. Meski angkanya relatif kecil yakni hanya sekitar satu persen dari total pria Indonesia kini. DR. Sonar juga mencermati bahwa kanker payudara pada wanita harus diwaspadai sejak dini karena bisa mengakibatkan kematian. ”Sel kanker payudara yang pertama dapat tumbuh menjadi tumor sebesar 1 cm dalam waktu 8-12 tahun,” ujarnya.
Sel kanker tersebut diam pada kelenjar payudara, kemudian dapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Sedangkan mengenai kapan penyebaran itu berlangsung, hingga kini tak banyak teknologi yang mampu mengetahuinya. ”Sel kanker payudara dapat bersembunyi di dalam tubuh kita selama bertahun-tahun tanpa kita ketahui, dan tiba-tiba aktif menjadi tumor ganas atau kanker”

Deteksi Dini
Satu-satunya cara yang menurutnya efektif sampai saat ini hanya dengan melakukan deteksi sedini mungkin pada kemungkinan timbulnya penyakit ini. ”Sampai saat ini satu-satu cara untuk mendeteksi adanya kanker pada payudara adalah dengan melakukan upaya Sadari (Pemeriksaan payudara sendiri- red),” ungkap DR Sonar lagi.

Tindakan ini menurutnya sangat penting, karena hampir 85% benjolan di payudara ditemukan oleh penderita sendiri. Bahkan pada wanita normal, American Cancer Society menganjurkan wanita yang berusia di atas 20 tahun untuk melakukan Sadari setiap tiga bulan, usia 35—40 tahun melakukan mamografi, di atas 40 tahun melakukan check up pada dokter ahli, lebih dari 50 tahun check up rutin dan mamografi setiap tahun. DR. Sonar juga menjelaskan pengobatan kanker payudara yang disepakati oleh ahli kanker di dunia bisa melalui beberapa tahap. Pada tahapan stadium I, dilakukan operasi dan kemoterapi. Pada stadium II dilakukan tindakan operasi, yang kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi ditambah hormonal. Apabila telah mencapai stadium III harus dilakukan operasi, yang kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi ditambah radiasi dan hormonal. ”Sedangkan bila telah mencapai stadium IV pengobatan kemoterapi dilanjutkan dengan radiasi dan hormonal,” tambahnya.

Pada stadium lanjut, setelah diobati, harapan hidup pasien paling lama adalah empat tahun. Bagi pasien yang dalam proses pengobatan, operasi pengangkatan tumor dilakukan di seluruh bagian payudara, baik kanan atau kiri.

Penyebab
Ada beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko kanker payudara, antara lain usia, riwayat kesehatan, faktor keturunan, faktor hormonal seperti menstruasi pertama terlalu cepat dan menopause dini. Selain itu upaya menunda kehamilan atau kehamilan pertama terjadi di atas usia 30 tahun juga bisa meningkatkan resiko. Gaya hidup yang tidak sehat, misalnya sering mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak jahat, atau kurang berolahraga, juga dapat memperbesar resiko terserang kanker payudara.

Gejala-gejala kanker payudara
Pada tahap awal kanker payudara, biasanya tidak dirasakan sakit atau tidak ada tanda-tandanya sama sekali. Namun, ketika tumor semakin membesar, ada benjolan yang tidak hilang atau permanen, biasanya tidak sakit dan terasa keras bila disentuh atau penebalan pada kulit payudara atau di sekitar ketiak.

Gejala lainnya, antara lain perubahan ukuran atau bentuk payudara, kerutan pada kulit payudara, keluarnya cairan dari payudara, umumnya berupa darah, terjadi pembengkakan atau adanya tarikan pada puting susu.Segera periksakan ke dokter jika terdapat gejala tersebut. Jangan menunda lebih lama lagi karena jika terlambat kanker payudara sulit disembuhkan.
Bagaimana cara mencegah kanker payudara?
Ada beberapa faktor yang dikaitkan dengan peningkatan risiko, tetapi hal itu masih tidak jelas.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menekan resiko kanker payudara, yakni :
1. Hindari melakukan terapi penggantian hormon untuk jangka panjang
2. Hindari memiliki anak diatas usia 30 tahun
3. Memberikan ASI pada anak
4. Melakukan olahraga dan diet yang tepat5. Hindari mengkonsumsi alkohol

Untuk perempuan dengan risiko tinggi, risiko berkembangnya kanker dapat diturunkan menjadi 50% dengan meminum obat yang disebut Tamoxifen selama 5 tahun. Tamoxifen memiliki efek samping, seperti gangguan vaginal, yang tidak berbahaya dan beberapa efek samping yang tidak biasa yang dapat mengancam nyawa seperti: penggumpalan darah, pulmonory umbolus, stroke, dan kanker uterin. Tamoxifen tidak umum digunakan untuk pencegahan, tetapi dapat berguna untuk beberapa kasus. Ada data yang menyebutkan bahwa vitamin A, vitamin C, dan vitamin E dapat melindungi dari kanker payudara, tetapi masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya. Saat ini, yang paling penting untuk setiap perempuan untuk menurunkan risiko kematian akibat kanker payudara adalah melakukan skrining mamogram secara reguler, mengetahui bagaimana cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri, dan memeriksakan diri ke dokter secara rutin.

Pria juga rentan terhadap kanker payudara

Pria juga dapat terkena kanker payudara walau persentasenya lebih kecil daripada perempuan. Kanker payudara pada pria juga berbahaya. Penyebaran kanker payudara pada pria lebih cepat karena jaringan sekitar payudara pria lebih tipis dari perempuan sehingga pada tahap awal mungkin sudah terjadi pelekatan pada jaringan sekitarnya. Karena itu, disarankan pria juga melakukan Sadari sehingga setiap perubahan cepat diketahui.


Untuk Terapi kanker dengan membanjiri darah dengan oxygen sesuai dengan peneliian Dr. Wardburg (peraih penghargaan dunia NOBEL PRICE) ...
Kunjungi: www.atmcellfood2u.com

Dec 11, 2008

CARA MEMERIKSA PAYUDARA SENDIRI (Kanker Payudara)

Pemeriksaan payudara sendiri secara RUTIN untuk mendeteksi lebih awal (dini) akan menyelamatkan jiwa anda...
Banyak sekali mereka (wanita) TIDAK TAHU CARANYA memeriksa payudaranya sendiri untuk mendeteksi lebih dini kanker payudara...

Saya sudah menemukan video dari youtube yang bisa anda gunakan untuk belajar memeriksa payudara anda...


video

Dec 9, 2008

2010 Penyakit Kanker merupakan Pembunuh paling TOP versi WHO

ATLANTA – Cancer will overtake heart disease as the world's top killer by 2010, part of a trend that should more than double global cancer cases and deaths by 2030, international health experts said in a report released Tuesday. Rising tobacco use in developing countries is believed to be a huge reason for the shift, particularly in China and India, where 40 percent of the world's smokers now live.
So is better diagnosing of cancer, along with the downward trend in infectious diseases that used to be the world's leading killers.
Cancer diagnoses around the world have steadily been rising and are expected to hit 12 million this year. Global cancer deaths are expected to reach 7 million, according to the new report by the World Health Organization.
An annual rise of 1 percent in cases and deaths is expected — with even larger increases in China, Russia and India. That means new cancer cases will likely mushroom to 27 million annually by 2030, with deaths hitting 17 million.
Underlying all this is an expected expansion of the world's population — there will be more people around to get cancer.
By 2030, there could be 75 million people living with cancer around the world, a number that many health care systems are not equipped to handle.
"This is going to present an amazing problem at every level in every society worldwide," said Peter Boyle, director of the WHO's International Agency for Research on Cancer.
Boyle spoke at a news conference with officials from the American Cancer Society, the Lance Armstrong Foundation, Susan G. Komen for the Cure and the National Cancer Institute of Mexico.
The "unprecedented" gathering of organizations is an attempt to draw attention to the global threat of cancer, which isn't recognized as a major, growing health problem in some developing countries.
"Where you live shouldn't determine whether you live," said Hala Moddelmog, Komen's chief executive.
The organizations are calling on governments to act, asking the U.S. to help fund cervical cancer vaccinations and to ratify an international tobacco control treaty.
Concerned about smoking's impact on cancer rates in developing countries in the decades to come, the American Cancer Society also announced it will provide a smoking cessation counseling service in India.
"If we take action, we can keep the numbers from going where they would otherwise go," said John Seffrin, the cancer society's chief executive officer.
Other groups are also voicing support for more action.
"Cancer is one of the greatest untold health crises of the developing world," said Dr. Douglas Blayney, president-elect of the American Society of Clinical Oncology.
"Few are aware that cancer already kills more people in poor countries than HIV, malaria and tuberculosis combined. And if current smoking trends continue, the problem will get significantly worse," he said in a written statement.

from: MIKE STOBBE, AP Medical Writer